Lihat tumpukan buku disana


Lihat tumpukan buku disana? Lihat kan? begitu berdebu, usang, jelek, dan pasti tidak akan ada yang sudi untuk menyentuhnya barang sedetikpun.
ingatkah bahwa dahulu buku-buku tersebut telah membantu semua perjuanganmu dalam meraih pendidikanmu sampai ke jenjang setinggi ini? ingatkah kamu? pasti tidak, karena sekarang kamu tidak mau juga menyentuhnya lagi.
sungguh kecewa perasaan si tumpukan buku itu menghadapi kenyataan bahwa si pemilik yang dahulu selalu membawa tubuhnya pergi dari pagi sampai sore, dirinya yang sangat setia pada sang pemilik semenjak pemilik tubuhnya itu masih belajar membaca, sampai pada saat ini-dia mahir sekali aljabar, integral, logaritma, matriks, bioteknologi, induksi elektromagnetik, dan lain sebagainya-sudah tidak mau menyentuhnya lagi.
perasaanku berkecamuk. apakah yang sebenarnya terjadi? apakah jasa-jasaku selama ini sudah tidak dibutuhkan lagi? apakah aku tidak pernah memberikan dampak yang hebat lagi untuk dia? apakah aku pernah berbuat salah padanya sehingga sekarang aku seperti di anak tirikan oleh pemilikku dan digantikan dengan majalah elektronik portable itu? apakah aku selalu merepotkan dia dengan massaku yang tidak cukup ringan untuk dibawa kemana-mana? kenapa sekarang dia jadi seperti itu?
dia telah mencampakkanku, atas kedatangan benda tipis yang praktis itu sebagai hadiah dari ayahnya karena sekarang dia berhasil masuk perguruan tinggi favorit yang dicita-citakannya dari dahulu. tidak sadarkah dia, bahwa keberhasilannya mencapai akhir sekolah menengah atas itu ada yang membantunya selain tuhan dan semangat juangnya itu? tidak sadarkah dia? aku merasa tidak dihargai. aku sakit. hatiku rasanya telah ditarik ke dalam kehidupannya yang indah, lalu aku juga ikut berpartisipasi dalam hidupnya yang indah itu. ikut memberi perubahan dari waktu ke waktu, ikut merasakan senang dan sedihnya, menjadi teman curhatnya di kala dia sedang tidak merasa baik dalam belajar ataupun dalam melakukan sesuatu. aku rela memberi pengorbanan yang sangat besar itu kepadanya, hanya untuk pemilikku. aku mencoba untuk membuatnya nyaman, dan aku juga harus bisa setia menjadi barang miliknya, karena itulah yang sepatutnya dilakukan oleh sebuah barang. menjadi berarti untuk memberikan berbagai manfaat baik bagi yang benar-benar membutuhkanku. tetapi sekarang dia malah melemparku ke luar zona keindahan hidupnya selama ini…
aku sebenanya tidak menyalahkan kedatangan benda portable tersebut. tapi aku hanya merasa kecewa atas apa yang terjadi saat ini. waktu. ya, waktu yang menyebabkan ini semua. waktu telah menghancurkan arti sejati kedatangan diriku yang selalu ada untuknya setiap saat.
seiring dengan berjalannya waktu, pemilikku telah bertambah dewasa. dia menjadi semakin pintar sekarang. dia sangat tekun dalam mengejar apa yang dia inginkan sampai pada akhirnya dia berhasil meraih semuanya sekarang. waktu juga yang telah mendukung kemajuan pesat atas teknologi sekarang, yang menjadi dasar kelahiran si kotak portable yang tipis itu.
aku sempat terlibat perbincangan dengan si portable itu. aku menjadi sangat agresif pada saat itu. aku hanya benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
aku memulai pembicaraan, “siapa kau? kenapa benda seperti kamu bisa ada di tempat ini?”
lalu dia menjawab, “aku adalah tablet portable”
sambil terus melihat tubuhnya yang seperti habis minum obat pelangsing itu, lalu aku bertanya lagi, “tablet portable? benda apakah itu? aku tidak pernah mendengar sebelumya”
“hahaha, dari dimensi manakah kau? hidup di zaman sekarang tidak tahu aku? kau pasti benda purba yang telah diasingkan oleh pemilikmu”, si tablet tertawa puas.
aku terdiam sebentar. tunggu, dia tadi menyinggung isi hatiku. dia menyinggung perasaan kecewaku. sebenarnya aku sudah tau dia siapa. aku ini adalah buku. aku tahu semuanya. dan aku tahu semua kelemahan dan kelebihannya. oke, sudah cukup basa-basinya. “sebenarnya apa yang membuatmu terlihat lebih istimewa daripada aku sehingga pemilikku yang sangat aku sayangi selama 12 tahun ini tiba-tiba berpaling padamu?”, oke, aku cukup emosi sampai ke titik ini. dan aku masih cukup bisa bersabar, mungkin sisanya akan habis sebentar lagi.
dia terlihat sedang mengamati seluruh bagian tubuhku, lalu aku mebalikkan tubuhku ke arahnya. memberi penegasan padanya supaya ia hendaknya cepat-cepat untuk mengatakannya. “kau benar-benar ingin tahu? apakah kau tidak akan menyesal setelah ku beritahu nanti?”
“sudah cukup. jangan terlalu banyak bertele-tele”
“baiklah, aku akan beritahu semuanya. tahukah kau bahwa aku itu praktis dan ringan? kalau kau tidak percaya, lihat saja tubuhku”, ucapnya sambil menatap sinis padaku.
ya tuhan… sudahlah, cukup… dia membandingkan tubuhku dengan kemolekan tubuhnya itu. aku memang tidak seindah dirinya. tidak sesempurna dia, aku tidak semenarik dia. aku berat. dan badanku besar… lalu dia berkata lagi.
“hmm, kau sadar itu kan? lalu ada lagi. yang sangat perlu kau ketahui, inti dari semua kelebihanku ini”
“apa itu?”
“aku adalah pengganti buku. buku yang sudah kuno seperti dirimu. wujud barang yang tidak praktis sepertimu ini semestinya sudah dimusnahkan dari dulu. sangat merepotkan siapapun yang memerlukanmu”
aku masih terdiam.
ia berkata sambil mendorong tubuhku ke hadapan cermin di dinding, “kau rupanya sangat polos, ya. naif sekali dirimu. tahu sagalanya tapi berpura-pura seolah-olah kau lugu dan baru lahir ke dunia ini. lihat dirimu! kau itu sudah lapuk! tidak berguna lagi! dan aku yakin pasti sosok sepertimu akan berakhir di tempat daur ulang benda RONGSOKAN!”
aku mendadak lemas. sebegitu ironiskah nasibku?
“sedih sekali terlahir menjadi dirimu. beruntung sekali aku tidak hidup sezaman denganmu”. itulah kalimat terakhir yang ia katakan padaku sebelum ia pergi meninggalkanku untuk bertualang dengan pemilikku yang dahulu. untuk pertama kali ini aku tidak diajak menjelajah kehidupan barunya ini…

brukk!!
seperti biasa setelah berada lama di atas meja, aku selalu melompat ke lantai yang dingin. hal itu selalu aku lakukan setiap aku sudah selesai melakukan rutinitasku dengan pemilikku, ataupun bila aku sedang bad mood, aku selalu berhasil menghilangkannya dengan cara ini. seperti saat ini aku yang sedang menghilangkan kekesalanku pada tablet ramping itu.
aku benar-benar tidak menylahkan siapa-siapa. tidak si tablet, tidak ayah pemilikku, ataupun pemilikku. itu semua bukan salah mereka. aku tahu, ini semua hanya masalah waktu …

dua setengah tahun berlalu. aku tetap berdiam diri di bawah meja belajar, bersama dengan teman seperjuanganku selama 14,5 tahun ini. kami memang cukup tua, bahkan sebagian dari kami ada yang sudah tidak berada di rumah ini.
pemilikku masih berkutik dengan tabletnya. ingin rasanya aku menangis melihat melihat mereka yang akrab sekali menjalani masa kuliah ini, padahal mereka baru kenal selama tiga tahun setengah. tapi aku tidak melakukannya. aku tidak menangis. perkataan teman seperjuanganku yang sekarang telah meninggal dunia itu selalu membuatku kuat, bahwa semua ujian dalam hidup ini, termasuk cinta, itu hanyalah masalah waktu, ada masanya kita di bawah dan ada masanya kita berjaya, waktu itu berputar. kata-katanya selalu aku ingat sampai sekarang. itu yang membuatku selalu bisa kuat dengan berbagai hal yang terjadi di hidupku ini.
di semester ini aku tahu rencana pemilikku. dia akan cepat-cepat menyusun skripsi, aku tahu programnya yang hanya akan menyelesaikan kuliahnya dengan masa waktu 3,5 tahun. dia pasti membutuhkan berbagai literature yang bisa membantunya, menjadi teman setianya saat ini. saat ini aku melihat pemilikku tidak banyak bercanda dengan tablet. ia serius sekali mengerjakan semuanya. si tablet begitu sibuk saat ini. ia pasti kelelahan. aku tahu itu.

ah, aku tidak yakin tablet akan bisa menemaninya sampai lulus nanti dan akupun masih belum yakin kalau tablet akan terus setia padanya. aku mendengar keluhan tablet setiap hari. ia selalu mengeluh kelelahan yang sangat karena pekerjaan pemilikku-yang sekarang menjadi pemiliknya-itu mengerjakan tugas akhirnya dengan tanpa terlihat lelah sedikitpun. sampai pada suatu pagi ketika aku bangun tidur, pemilikku sedang menatap tablet yang entah sejak kapan menjadi hancur-seperti terbanting. aku sdah memprediksinya sejak lama. benda modern seperti itu tidak akan bertahan lama…
 tiga hari setelah hancurnya tablet, aku melihat pemilikku-yang tetap menjadi pemilikku-sedang asyik dengan laptop barunya. dia enggan dibelikan tablet lagi oleh ayahnya. eh tapi, tunggu, apakah yang kulihat ini sebuah kenyataan atau khayalan? dia-pemilikku-berjalan mendekatiku, lalu menyentuh tubuhku yang berdebu ini tanpa sedikitpun merasa jijik. pelan-pelan di membersihkan tubuhku dari debu tebal yang menempel selama bertahun-tahun, lalu setelah bersih dia membawaku duduk di kasur empuknya sambil mengerjakan tugas akhirnya.
semenjak itu aku tahu, sebenarnya dia masih membutuhkanku. aku yang apa adanya, yang setia menemaninya dimanapun dan kapanpun, aku yang selalu bersedia menampung semua curhatannya, dan aku yang selalu bisa memberikan manfaat baik bagi yang benar-benar membutuhkanku…     

0 comments:

Post a Comment

Thanks for coming!! :)
Avianna Ricitra Pradharatna. Powered by Blogger.